Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen

Lewat artikel yang saya tulis ini, saya akan mengupas tuntas tentang “Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit (KUM) Untuk Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen” yang diterbitkan oleh Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Tahun 2019 serta sikronisasinya dengan Pedoman Publikasi Ilmiah Dikti 2017 yang diterbitkan Direktorat Penguatan Riset dan Pengembang.  Dan artikel ini fokusnya pada pembahasan  karya buku.

Kenapa fokusnya pada karya buku? Berdasarkan raelita dilapangan, maskipun sudah ada panduanya, masih saja timbul kebingungan  dari para dosen dan penentu kebijakan di perguruan tinggi, dan kebingungan itu dipicu oleh terminologi serta kriteria buku yang tidak jelas. Maka tulisan ini dimaksudkan untuk menimalisir kebingungan yang ada serta menjadi opini awal untuk merevisi kebijakan angka kredit kenaikan pangkat/jabatan dosen terkait dengan karya buku.

Sebelum melebar lebih jauh, parlu saya uraikan dan mengutip beberapa komponen penilaian angka kredit dosen dari Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen tahun 2019, berikut komponen penilian jabatan akademik dosen:

  1. Unsur pertama meliputi pendidikan: Yaitu pendidikan sekolah dan pelaksanaan pendidikan (pengajaran), penelitian (meliputi pelaksanaan penelitian dan menghasilkan karya ilmiah sains/teknologi/seni/sastra), dan pengabdian kepada masyarakat
  2. Unsur ke kedua meliputi penunjang:  yang merupakan kegiatan pendukung pelaksanaan tugas pokok dosen. Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh setiap dosen untuk dapat diangkat dalam jabatan akademik paling sedikit dibutuhkan angka kredit 90% (sembilan puluh persen) dari unsur utama tidak termasuk pendidikan sekolah yang memperoleh ijazah/gelar dan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan (sesuai lampiran II Permen PAN dan RB No. 46 Tahun 2013 dan lampiran III Permen PAN dan RB No. 13 Tahun 2013); serta unsur penunjang paling banyak dibutuhkan angka kredit 10% (sepuluh persen) atau boleh tidak ada.

Dua poin diata sangat jelas, dosen yang mau naik pangkat harus fokus pada tiga unsur utama, yitu: 1) pelaksanaan pendidikan; 2) pelaksanaan penelitian; dan 3) pelaksanaan pengabdian masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi). Maka dengan demikian semakin tinggi jabatan dosen maka nilai angka kredit pelaksanaan penelitian persentasenya semakin besar. Sebagai contoh, dosen yang ingin naik jabatanya dan mau menjabat sebagai profesor (pendidikan doktor) maka harus memenuhi pelaksanaan pendidikan yang sama atau lebih dari 35% dan unsur pelaksanaan penelitian yang sama atau lebih dari 45%.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *