Perbedaan Buku Ajar, Diktat dan Modul, Refrensi Serta Monografi Secara Definisi

Buku pegangan Kegiatan Belajar Mengajar, atau yang disebut dengan buku ajar merupakan karya tulis dosen atau profesor yang membidani didalamnya, dan memenuhi kaidah buku serta diterbitkan secara resmi dan di sebar luaskan. Buku pelajaran atau buku ajar yang sudah mendapatkan sertifikat karya cipta dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dan Kemenkumham maka karya tersebut diajaukan dan dijadikan sebagai tanda bukti telah melaksanakan pendidikan atau melaksanakan penelitian.

Diktat adalah sejinis buku yang ditulis oleh dosen dan dijadikan acuan atau bahan pembelajaran ketika pembelajaran kuliah berlangsung dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan hanya diperuntkkan kepada mahasiswanya.

Sementara modul adalah bagian dari bahan ajar ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung dan khusus untuk suatu mata kuliah yang ditulis oleh dosen mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah.

Definisi diatas tidak menunujkkan pengertian yang sebenarnya, sehingga dosen tidak dapat membedakan mana diktat dan mana modul. Definisinya sama dan tidak spesifik sehingga diktat dan modul dianggap sama. Itulah yang menyebabkan kebingungan karena lemahnya pendefinisian buku.

Penulis mengira, modul dapat menemukan momentumnya terkait kasus COVID-19 yang mengharuskan semua perguruan tinggi melaksanakan pembelajaran dengan jarak jauh dan mengharuskan mahasiswa untuk belajar secara mandiri. Maka dengan situasi yang sperti ini penulis beranggapan bahwa pengajaran yang paling tidak digunakan adalah modul.

Mengurai Kebingungan Buku untuk Pelaksanaan Penelitian

Pada pertanyaan kedua kita dihadapi dengan kejadian yang serupa, yaitu tentang Refsensi dan monografi: Mengapa buku referensi leibh tinggi nilainya daripada monografi? Pada kasus ini penulis kembali menemukan ketidaksinkronan isilah/terminologi buku referensi sehingga kemudian dosen-dosen mengalami mispersepsi terhadap buku referensi.

Supaya lebih jelas mari kita bandingkan kedua perbedaan definisi buku referensi dan Pedoman Publikasi Ilmiah Dikti 2017 dan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen Tahun 2019.

Definisi buku referensi (Pedoman Publikasi Ilmiah Dikti 2017):

Buku referensi merupakan buku yang memuat suatu kompendium (himpunan) informasi, biasanya spesifik, yang dikumpulkan dalam bentuk buku untuk kemudahan referensi (acuan). Orang tidak perlu membaca dari awal sampai akhir untuk mendapatkan informasi yang dicari. Gaya penulisan umumnya seperti indeks atau daftar Edisi buku dapat dimutakhirkan, umumnya tahunan.

Adapun Buku referensi perpustakaan biasanya tersimpan di bagian Reference Book dan tidak untuk diperpinjmakan (kecuali untuk difotokopi); boleh dibaca di tempat. Tulisan dalam buku referensi berisi substansi yang pembahasannya hanya pada satu bidang kompetensi penulis. Isi tulisan harus memenuhi syarat-syarat sebuah karya ilmiah yang utuh, yaitu adanya rumusan masalah yang mengandung nilai kebaruan, metode pemecahan masalah, dukungan data atau teori mutakhir yang lengkap dan jelas, serta ada kesimpulan dan daftar pustaka. Berikut ini merupkan contoh buku referensi:

  • Almanak — almanak pertanian;
  • Atlas — sekumpulan peta, memuat lokasi geografis;
  • Book by category — daftar buku berdasarkan kategori;
  • Citation index — daftar publikasi yang disitasi oleh publikasi lain;
  • Direktori — memudahkan pencarian subjek, a.l. buku telpon;
  • Ensiklopedia — suatu kompendium yang sangat komprehensif;
  • Handbook — suatu manual yang meringkas suatu kajian;
  • Tabel matematis — suatu tabel hasil-hasil matematis;
  • Farmakope –buku yang mengandung spesifikasi obat-obatan;
  • Tesaurus — daftar kata yang serupa, berkaitan, atau berlawanan.

Definisi buku referensi (Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen Tahun 2019):

Buku referensi adalah suatu tulisan dalam bentuk buku (ber-ISBN) yang substansi pembahasannya pada satu bidang ilmu kompetensi penulis. Isi tulisan harus memenuhi syarat-syarat sebuah karya ilmiah yang utuh, yaitu adanya rumusan masalah yang mengandung nilai kebaruan (novelty/ies), metodologi pemecahan masalah, dukungan data atau teori mutakhir yang lengkap dan jelas, serta ada kesimpulan dan daftar pustaka yang menunjukkan rekam jejak kompetensi penulis.

Lalu Ddfinisi mana yang paling tepat secara terminologi ilmu penerbitan? Definisi yang paling tepat adalah dari Pedoman Publikasi Ilmiah Dikti 2017.

Buku referensi itu buku yang menjadi rujukan berulang dalam satu atau lebih bidang ilmu. Menyusun buku referensi seperti kamus atau ensiklopedia adalah sebuah pekerjaan besar yang terkadang tidak dapat dilakukan oleh satu orang.

Dari beberapa definisi yang ditunjukkan diatas, timbul kebingungan untuk mendefinisikan buku referensi ini, tidak terkeculai diri saya sendiri ketika ada kesempatan untuk bicara pada pelatihan penulisan buku ilmiah atau buku akademis. Dosen-dosen yang mengacu pada pedoman angka kredit mempersepsikan buku referensi sebagaimana tertulis di pedoman.

Kalau ada yang tanya pada saya buku apa yang dimaksud oleh pedoman tersebut, itulah namanya buku ilmiah populer (popular science book) yang merupakan pengembangan dari hasil penelitian plus pemikiran penulis, tetapi disajikan dengan gaya yang lebih komunikatif.

Biasanya buku ilmiah populer lebih sulit ditulis dan disajikan daripada monografi, dan sistematika buku ilmiah populer tidak kaku seperti monografi.

Penulis bisa mengatakan bahwa buku ilmiah populer seperti karya Stephen Hawking berjudul A Brief History of Time atau karya Thomas L. Friedman berjudul The World is Flat atau yang terbaru Thank You for Being Late.  Dari Indonesia karya buku yang ditulis oleh Rhenald Kasali termasuk kategori buku ilmiah populer di bidang manajemen.

Istilah buku ilmiah begitu populer dan digunakan juga oleh LIPI untuk membedakan keduanya. Secara diseminasi, buku ilmiah populer dapat menjangkau pembaca sasaran yang lebih luas daripada monografi.

Supaya lebih jelas penulis akan menyertakan pengartian manografi ; Istilah yang akan di gunakan oleh penulis berdasarkan (Pedoman Publikasi Ilmiah Dikti 2017; di pedoman ini disebut monograf):

Monograf adalah suatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada 1 topik dalam satu bidang ilmu. Monograf merupakan tulisan tentang 1 subjek, biasanya oleh penulis tunggal dan dibedakan dari jurnal yang terbit secara berkala.

Monographic series diterbitkan berseri, biasanya oleh himpunan profesi dari kegiatan seminar (seperti prosiding). Isi tulisan harus memenuhi syarat- syarat sebuah karya ilmiah yang utuh, yaitu ada rumusan masalah yang mengandung nilai kebaruan (novelty), metode pemecahan masalah, dukungan data atau teori mutakhir yang lengkap dan jelas, serta ada kesimpulan dan daftar pustaka.

Tunggu dulu, definisi monografi ini mirip dengan definisi buku referensi dari pedoman penilaian angka kredit?

Definisi monografi (Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik/Pangkat Dosen Tahun 2019):

Monografi adalah tulisan ilmiah dalam bentuk buku (ber-ISSN/ISBN) yang substansi pembahasannya hanya pada satu topik/hal dalam suatu bidang ilmu kompetensi penulis, dan isi tulisanya memenuhi syarat karya ilmiah yang utuh, yaitu rumusan masalah yang mengandung nilai kebaruan (novelty/ies), metodologi pemecahan masalah, dukungan data atau teori mutakhir yang lengkap dan jelas, serta ada kesimpulan dan daftar pustaka yang menunjukkan rekam jejak kompetensi penulis.

Definisi monografi diatas jelas sekali bahwa pedoman penilaian angka kredit mengutip juga dari pedoman publikasi ilmiah Dikti. Namun, yang membuat makin bingung adanya keterangan ber-ISSN. Bukankah ISSN itu digunakan untuk penerbitan berkala bukan penerbitan buku? Penulis melihat ada kerancuan pemahaman antara monografi dan prosiding. Karya prosiding memang dapat dibuat dalam bentuk buku ber-ISSBN dan dalam bentuk media berkala ber-ISSN.

maka, berdasarkan pedoman penilaian angka kredit dosen tersebut buku referensi dan monografi tidak ada bedanya. Di tingkat penilaian internal yang dilakukan oleh perguruan tinggi, penulis memiliki dugaan menjamin terdapat bermacam persepsi dan interpretasi soal penilaian buku ini. Mengapa? Hal ini karena pedoman dari Dikti ini jelas membingungkan dan tidak konsisten.

penulis berempati kepada para dosen yang sudah bersusah payah untuk menulis dan menyusun sebuah buku untuk memenuhi angka kredit karena tidak adanya pedoman standar yang jelas menunjukkan pembeda antar jenis buku.

Begitupun dengan penulis yang tidak kalah bingungnyauntuk menyamakan persepsi antara yang penulis pahami dalam ruang lingkup ilmu penerbitan dan yang dipahami oleh dosen dalam ruang lingkup kebijakan pemerintah dan kebijakan dari kampusnya masing-masing.

Harapan, semoga tulisan ini bisa sampai kepada pemegang kebijakan, baik di tingkat perguruan tinggi maupun di tingkat kementerian, agar pedoman yang ada disempurnakan sehingga benar-benar mendorong dosen menghasilkan karya buku yang bermutu sesuai dengan standar, kaidah, dan kode etik penulisan buku sebagaimana diamanatkan oleh UU Nomor 3/2017 dan PP Nomor 75/2019.[]

 

Daftar Pustaka

  1. http://lldikti12.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2019/03/PO-PAK-2019_MULAI-BERLAKU-APRIL-2019.pdf
  2. https://lldikti6.id/wp-content/uploads/2020/01/SE-Pedoman-Operasional-ttg-PAK-Keniakan-jabatan-tahun-2019.pdf
  3. https://nazroel.id/2020/07/01/12-perubahan-pedoman-operasional-penilaian-angka-kredit-kenaikan-jabatan-akademik-pangkat-dosen-2019/

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *